Rabu, 22 Juni 2016

Apakah perlu orang bule untuk bisa berbahasa Inggris? - Episode 1

Ehem, ada orang bule nih. Ajak ngobrol ah :-) (Sumber gambar : https://pixabay.com/en/talk-communication-college-students-1034161/)
"Kalau dengan orang bule, saya termotivasi untuk berbicara dalam Bahasa Inggris."

Itu adalah salah satu alasan dari teman, sebut saja Roni, di speaking club yang pernah saya ikuti. Imbasnya setelah itu adalah tidak lama, club itu vakum.

"Fandi ke Thailand untuk kuliah S-2, jadi kita off dulu."

Padahal, sebenarnya, sebelum Fandi ke Thailand, saya sudah merasa, club ini tidak akan bertahan lama.

Kenapa saya berpikiran begitu?


Karena pola pikir akan pentingnya orang bule dalam membimbing berlangsungnya speaking club.

Selain itu, karena pertemuan setiap Minggu malam, mereka rasakan sebagai beban, karena selain harus bekerja esok di hari Senin, juga karena keinginan untuk having a quality time, entah dengan anggota keluarga atau dengan teman.

Sehingga banyak yang tidak hadir dengan alasan 'keluarga' atau 'sudah janji dengan teman'.

Saya tidak menyalahkan apa yang mereka lakukan. Itu hak mereka untuk tidak hadir. Saya baru tahu sudut pandang Roni soal orang bule. Saya tidak tahu dengan yang lain.

Tapi saya rasa, pendapat Roni sedikit atau banyak mempengaruhi pola pikir anggota yang lain.


Tips untuk bisa berbahasa Inggris

 

Bagi saya pribadi, orang bule ada atau tidak, bukan menjadi soal untuk bisa berbahasa Inggris.

Saya bisa menyebutkan salah satu contoh, semisal Kampung Bahasa Inggris yang ada di Kediri. Apakah disana ada orang bule? TIDAK ADA.

Mereka melatih diri mereka sendiri untuk berbicara bahasa Inggris, meskipun di awal masih terbata-bata.

Practice makes Perfect.

Latihan menjadikan Sempurna.

Itu saja kuncinya.

Namun sebenarnya tidak cukup dengan berbicara saja.

Kadang-kadang konotasi orang lihai berbahasa Inggris adalah bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar dan fasih. Tidak salah, hanya saja, saya ingin meluruskan kejomplangan itu sehingga menjadi stabil, tidak roboh.

Sedikitnya, menurut versi saya, ada empat hal yang kita harus lakukan jika ingin bisa berbahasa Inggris 'sepenuhnya'.

Empat hal itu adalah :

1. Mendengar (Listening)

Mungkin Anda berpikir, "Ah, itu bukan hal baru. Semua orang juga tahu."

Memang kebanyakan orang sudah tahu soal ini, tapi pertanyaannya, berapa banyak yang mempraktekkan langkah pertama ini?

Saya bisa pastikan cuma sedikit. Kalau dihitung dalam persentase (sayang saya tidak punya datanya), perkiraan saya sekitar sepuluh persen saja.

Mengapa tidak lima puluh, atau tujuh puluh atau sembilan puluh?

Karena dari pengalaman yang saya temui, waktu bertanya pada teman-teman saya, baik itu orang awam maupun guru-guru bahasa Inggris, mereka jarang mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris atau siaran berita dalam bahasa Inggris di teve dan radio.

Dari sepuluh orang awam, hanya satu atau dua saja yang melakukannya.

Begitu juga dengan guru-guru berbahasa Inggris.

Maka tidaklah mengherankan, saya menarik kesimpulan persentase sepuluh persen.

Tentu saja kita masih ingat pengalaman kita waktu kecil, atau waktu melihat bayi-bayi yang masih belum tahu 'bahasa', dan lalu mendengar ayah-ibu mengajarkan bahasa dengan lisan.

Bayi-bayi itu mendengar dan meniru ucapan-ucapan yang orangtuanya ucapkan.

Mendengar adalah input, bahan sebelum kita bisa memproduksi ujaran-ujaran lisan.

Saya ingat sekali, waktu dulu kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, momok terbesar adalah mata kuliah Listening atau Mendengar kalau di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.

Kami mendapat mata kuliah Listening 1, Listening 2  dan Listening 3 di tiga semester awal.

Kami memasuki laboratorium bahasa dengan dagdigdug, dan seakan mendengar makhluk dari planet lain berbicara di speaker atau headphone yang kami pakai.

Hasil di semester satu, kurang begitu menggembirakan.

Banyak yang mendapat nilai buruk. Saya, meskipun tidak begitu gemilang, mendapat nilai cukup.

Nah, tentu saja saya tak puas dengan hasil saya.

Mau tahu kelanjutan cerita bule dan tips saya disini( sebelum molor jadi sangat panjang sampai terkesan tiada akhir ;-)? Nantikan di episode berikut :-).
  
To be continued ....

    

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar